GAP SEBUAH IDEALISME

Menatap keadaan yang terjadi di masyarakat, sungguh ironis dengan segala ketimpangan yang terjadi, sebuah realitas yang sangat bertentangan dengan sebuah idealitas yang selama ini dibangun, dengan berbagai peristiwa yang terjadi di masyarakat telah memberi informasi bahwa stabilitas masyarakat sungguh memprihatinkan.
Tayangan televisi membuat hati miris melihat kondisi kemiskinan yang semakin meningkat, peristiwa demi peristiwa yang diluar rasio kita bahkan terjadi. Pemerkosaan oleh ayah sendiri, pembunuhan oleh kakak kandung sendiri, kematian disebabkan alas an kemiskinan bukanlah hal yang tabu lagi. Mungkin peristiwa tersebut beberapa hari yang lalu disaksikan hanya dilayar televise tetapi kini tayangan itu dapat disaksikan langsung di dekat kita dilokasi yang kita tempati. Hal ini mungkin sebuah implikasi kecanggihan tekhnologi yang telah mampu mempublikasikan peristiwa ataukah memang keterpurukan itu telah menjadi sebuah realitas dari sebuah keadaan yang semakin mencekik. Salah satu yang menjadi sumber masalah adalah kemiskinan dan moral masyarakat, dimasyarakatlah sebuah realitas politik yang berasaskan kepentingan. semua dapat dilakukan ketika itu dapat menguntungkan mereka, walau keuntungan itu terkadang didasari oleh simbiosis parasitisme, dan melupakan kerjasama yang berasaskan mutualisme. Inilah yang menjadikan sebuah perbedaan dengan dunia kampus yang memiliki tingkat idealitas yang tinggi.
Didunia kampus yang selama ini menjadi dunia yang memiliki signifikansi tinggi hanya menjadi sebuah bagian dunia masyarakat. Dunia mahasiswa dan dunia masyarakat memiliki perbedaan, dunia kampus dapat dengan mudah direkayasa dengan cara mencocokan lingkungan yang sesuai dengan kondisi intelektual mahasiswa, hal ini disebablan dunia mahasiswa masih bersifat homogen, sedangkan dunia masyarakat sangat heterogen, sehingga idealisme yang biasanya terbangun dalam dunia kampus luluh lantak dengan kondisi yang tidak bersahabat di masyarakat. Kesempurnaan (idealitas) memang tidak ada, yang ada hanya limit mendekati kesempunaan. Hal ini jugalah yang menyeabkan sebagaian mahasiswa memilih untuk terus berada ditataran kampus, ataukah melepuhkan idealismenya ketika berada dimasyarakat.
Dibutuhkan suatu sikap yang peka terhadap lingkungan, sehingga keadaan tersebut tidak menyebabkan hal yang negative dalam sikap kita memsayarakatkan diri. Hal ini dapat dilatih dengan membiasakan diri untuk tetap dapat berinteraksi dengan kondisi masyarakat, mau tidak mau, suka ataupun tidak suka, kita adalah bagian dari masyarakat yang integral, walaupun itu mahasiswa, wakil rakyat ataupun pegawai negeri adalah bagian dari masyarakat yang harus bisa mengambil bagian dalam proses membangun idealitas yang diharapkan. Bukan justru menjauh ataukan justru melepuh oleh keadaan yang jauh dari realitas.
20 agustus 2008
(Nadiyah hansur)an_nadiyahbio@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s