IBU JALANAN

Pagi ini ada pasar kaget, disanalah tempat bertemu para pembeli dan penjual dengan harga yang terjangkau. Bermodalkan karpet saja sehingga harga tidak melambung, karena mengurangi biaya fix cost yaitu biaya sewa gedung atau sewa ruko. Sekedar perbandingan di mall biaya sewa gedung bisa mencapai 500jt per tahun sedangkan ruko dipinggir jalan bisa 25 jta pertahun. Hal inilah yang menyebabkan barang2 di mall lebih mahal  walau itu diakui memang barang impor dan Diminati karena dengan begitu seseorang bisa dikatakan stilis dan keren karna menggunakan barang mahal dan produk luar negri.

 

Cerita diatas hanyalah sebuah pembuka saja sebagai penambah nambah paragraf dalam tulisan ini. lebih tepatnya saya ingin menceritakan tentang pasar kaget. Pasar yang bener2 mengagetkan. disana ada beberapa barang yang bisa dibeli dengan sangat murahnya. Karena murahnya pembeli Awalnya memang Cuma liat2 saja tetapi akhirnya barang2 yang terbeli nantinya hanya menumpun dilemari atau dikamar karena metode pembelian yang tidak terncana. karena sesungguhnya perencanaan diatas segalanya. seperti kata aa gim “Awalilah setiap pekerjaan dengan perencanaan yang baik, karena gagal dalam merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan”. Tentu saja kegagalan dalam hal ini lebih kepada kegagalan memanajemen diri terhadap keinginan dan kegagalan dalam mengutamakan fungsi sesuatu yang dibeli.

 

Disudut lain pasar kaget ada pihak yang mengagetkan yang kedua adalah keberadaan peminta2. seperti membeli barang orangpun akan memberi karena sesungguhnya peminta2 ini bukanlah sebuah peminta2 saja, tetapi dimasa kini sudah menjadi sebuah kebutuhan dan telah terindustrialisasi dengan sangat inovatifnya. di ujung jalan ada seoang nenek yang menggellongsor, disampingnya ada seoang kakek2 yang berjalan sambil membawa tongkat, ada juga yang buta di arahkan oleh seorang anak muda. tidak berhenti disitu ada juga seorang anak kecil yang menggunakan tongkat walau kaki masih utuh dan hipotesisku anak itu tidaklah cacat, karena tanpa dia sadari, kaki yang di gunakan kadang bergantian. 

 

Industrialisasi yang  semakin berkembang, karena  mereka adalah penjual jasa. Lebih tepatnya penjual jasa iba, jasa iba yang membuat hati orang teriris melihatnya sehingga uang dalam dompet pun doberikan ke mereka, dengan begitu rasa iba seseorang akan hilang. Perasaan itu hal yang sangat sensitif sehingga penting untuk dilegakan. Melegakan perasaan cinta itu dengan memberi dan melakukan pengorbanan, tetapi melegakan rasa iba tidak ada jalan selain memberi uang kepada peminta2 itu. Jasa kedua yang mereka jual adalah jasa sedekah, karena terkadang sangat sulit rasanya  untuk mencari tempat untuk bersedekah, padahal sangat jelas ayat alquran telah memerintahkan“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui). sehingga dengan memberikan kepada mereka sipemberi merasa bersedekah, tapi ……..

 

pengamatan yang sangat biasa  dipasar kaget itu seoang ibu yang menggunakan baju compang camping. jilbab yang keddikeddiang(kumal red). Pemandangan itu sering terlihat dan tidak begitu inovatif sambil membawa seorang anak yang  kisaran umurnya 6 bulan. Semua pada tau motif kayak gitu biasanya membawa anak sewaan. Anak itu  berada digendongan dengan sangat cerianya. baju anak itu biasa saja tidak kumal sama sekali. tetawa2 diatas gendongan seorang ibu jalanan. Tau apa  anak itu, melihat keramaian mungkin dia merasa berada ditaman hiburan makanya sambil tertawa2. Iseng saya memberi anak itu susu kemasan,  tanpa memberi uang  kepadanya. Sambil berterimakasih ibu jalanan itu mulai menyusuri kembali jalanan untuk menjajakan jasa iba dan jasa sedekah.

 

Pemandangan itu berubah menjadi iba seiba2nya, ketika ibu itu duduk diselasar toko sambil menyusui anaknya, susu yang kuberi diminumnya  dengan terburu2 sambil sesekali menatap anak yang ia susui. ketika kudekati dia langsung memberi susu itu kepada anaknya(mungkin merasa bersalah. Setengah jam bercerita dengannya memberikan informasi yang banyak tentang sisi lain kehidupan seorang ibu jalanan. Bahwa dia dulunya adalah seorang pedagang kecil2an dikampungnya.

 

Pindah kekota ini untuk mengadu nasib dan berharap mendapatkan sesuatu yang diharapkan.di kota yang baru dia membuka warung dan membuat jajanan yang dipasarkan bersama suaminya. “tapi berdagang itu sungguh susah mba, kata dia sambil menatapku. yang membeli jarang mba,  dan malah kebanyakan gak laku, basi  dan akhirnya dibuang. Modal hanya habis untuk mencoba dan  mencoba. waktu suami saya sakit saya berhenti mba soalnya gak ada yang bantuin, makanya saya berinisiatif sendiri untuk meminta2, tapi karena penghasilan dari meminta2 saya bisa membantu suami saya berobat” sambil menunduk. “sebenarnya saya juga gak mau mba, ingin berdagang saja, tapi rasa2nya berdagang penghasilannya sedikit, dan butuh modal lagi, sedangkan saya tidak punya modal lagi, suami saya juga sakit2an, saya juga tidak tega mba sbg seorang ibu membawa anak saya panas2an. tapi kadang memang hidup gak ada pilihan. dan pilihan terakhir saya hanya ini. maafkan saya mba, saya mencoba cari kerja tapi siapa yang mau menerima saya, gak punya ijasah bahkan gak pernah sekolah, saya kerja jadi tukang cuci tapi malah saya dikasari sama majikan saya”. penuturan seorang ibu jalanan, saya hanya bisa mendengarkan sambil sesekali mencubit pipi anaknya.

 

Sepenggal kisah hidup seorang ibu jalanan yang akan membawa kita kepada makna kesyukuran terhadap hidup yang Allah berikan. bahwa dalam kehidupan yang anda miliki sekarang bukan sepenuhnya hak anda. ada hak allah yang memberi kehidupan itu sendiri yang ditunaikan dengan beribadah kepadaNya. jangankan daun, semut, kehidupan manusia tidak lepas dari lisensi ilahi. namun ada hak orang lain dalam kehidupan kita, hak  habluminannas yang juga merupakan pengejwantahan ibadah karena sangat jelas di alquran di jelaskan “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (Al Baqarah: 195).

 

Fokus tulisan ini bukan hanya pada perenungan itu saja. tapi pada kondisi realitas. ada kegagalan yang disebabkan oleh salah kaprah. lebih tepatnya adalah kegagalan berjamaah. kegagalan yang disebabkan modernitas. industrialisasi peminta2 disebabkan daya beli masyarakat yang rendah pada produk2 dalam negri dan pilihan2 membeli ditoko modern” tidak sedikit orang2 yang melihat prospek peminta2 lebih besar dari prospek berdagang. semua bersifat sistematis dan membentuk rantai. kecenderungan kita  membeli barang yang sama hanya pada toko yang ber AC. melupakan toko2 sederhana dijalan yang mulai terseok2. Pembeli beralih pada modernisasi. menyalahkan pedagang(case: ibu jalanan) yang tidak bisa beradaptasi dan berinovasi dengan dagangnya mungkin tidak tepat, karena mereka tidak begitu paham tentang bagaimana berinovasi dan memahami konsumen. ilmu jugalah yang membatasi survive mereka dalam dunia perdagangan. Tapi kita tidak bisa menyalahkan konsumen yang menginginkan kenyamanan dalam berbelanja dan keamanan pangan yang mungkin tidak terstandarisasi pada pembeli jalanan. Mereka memang mungkin memiliki segmentasi pasar yang berbeda. Namun jika anda tidak tersegmen didalamnya cukup member penghargaan dengan membeli barang dagangan mereka sudah sangat cukup.

 

Sekarang saya ingin menggiring keibaan anda. keibaan yang membuat kita memberi kepada peminta2 dan secara tidak langsung menyuburkan industrialisasi  pengemis. “ya” pemberian anda yang memoitifasi mereka menjadi pengemis. melihat ada ladang pendapatan yang mudah tanpa harus punya modal. cukup bermodalkan baju usang saja dan kemampuan memelas. itulah motivasi mereka menggeluti pekerjaan itu, pekerjaan yang sebenarnya tidak mereka inginkan, tetapi menghidupinya. seandainya memutar kembali, bahwa daya beli masyarakat terhadap barang dagangan ibu jalanan tadi tinggi, maka bisa saja tidak akan berdampak membuatnya jadi pengemis. dan seandainya didunia pengemis tidak punya prosepek(tidak ada lagi yang memberi), maka mereka akan berusaha mencari jalan lain.  saya hanya ingin membuat anda menghentikan dua hal, berhenti menyalahkan mereka dan menginstrokspeksi kebiasaan anda  memberi(memiskinkan red) mereka melalui pemberian anda. ada satu cara yang bisa kita temph yaitu membuat jual beli terhadap produk lokal dan penjual lokal tinggi. berhentilah memperkaya orang yang sudah kaya yang punya modal milyaran. Marilah memberi kehidupan pada pedagang2 kecil yang dengan membeli dagangan mereka berarti memberi kehidupan pada keluarga pedagang itu. mari bawa  rasa iba anda pada sebuah realitas yang lebih indah, bahwa rasa iba itu tidak diberikan pada pengemis tetapi berikan pada pedagang (kehidupan awal ibu jalanan). Membeli barang dagangan mereka adalah sebuah motifasi baru.bayangkan saja jika prospek pengemis semakin tinggi, apa yang terjadi?? maka mari memutus mata rantai industrialisasi pengemis dengan “stop memberi”, karena ada mekanisme memberi yang lebih baik (akan saya bahas pada artikel selanjutnya), seperti kata pepatah “jangan berikan ikan tapi berikanlah kail”. merubah memberi dengan membeli barang dagangan mereka yang berjuang menghidupi keluarga dengan berdagang itu lebih bijak dari sekedar memberi dan memutus motifasi mereka.

 

Cerbang

Bogor, 24 juni 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s